WARTAGARUT.COM – Pelatihan Instruktur Dasar Nasional (PIDNAS) IMM Garut dinilai tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut, Dr. Agus Rahmat Nugraha, M.Ag., M.Pd., menegaskan keberhasilan pelatihan justru ditentukan oleh rencana tindak lanjut (RTL) setelah kegiatan selesai.
Menurut Dr Agus Rahmat Nugraha, para instruktur yang mengikuti PIDNAS harus segera berkonsolidasi dengan pimpinan yang memberikan mandat kepada mereka untuk memastikan ilmu yang diperoleh diterapkan dalam proses perkaderan.
“PIDNAS ini harus ditindaklanjuti. Jangan sampai hanya menjadi formalitas atau terlihat besar, tetapi dampaknya kecil.”katanya
Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri Pelatihan Instruktur Dasar Nasional (PIDNAS) IMM Garut di IMDA Garut, Jumat (7/8/2026).
Instruktur Harus Memetakan Potensi Setiap Kader
Dr Agus menjelaskan bahwa ilmu keinstrukturan bukan sekadar materi yang dihafalkan, melainkan kemampuan membaca karakter kader dan menerjemahkannya dalam praktik perkaderan.
Instruktur, kata dia, memiliki tanggung jawab untuk memetakan potensi setiap kader sehingga proses pembinaan berjalan lebih terarah.
“Instruktur harus mengetahui kecenderungan setiap kader, apakah lebih kuat di persyarikatan, umat, atau kebangsaan. Semua harus terukur dan bisa dipertanggungjawabkan.”ujarnya
Ia mengingatkan bahwa tanpa pemetaan yang jelas, kader berpotensi kehilangan arah sehingga tidak mampu memberikan dampak bagi organisasi maupun masyarakat.
Tiga Pilar Kaderisasi Muhammadiyah
Ketua PDM Garut menjelaskan bahwa kader Muhammadiyah perlu dibangun melalui tiga pilar utama, yakni persyarikatan, umat, dan kebangsaan.
Menurutnya, posisi kader dapat berubah sesuai kebutuhan organisasi, namun setiap kader harus memahami keunggulan dirinya agar proses pengembangan lebih efektif.
Ia juga menilai proses kaderisasi harus berlangsung bertahap. Kader sebaiknya ditempa lebih dahulu di organisasi otonom sebelum memegang tanggung jawab yang lebih besar di tingkat persyarikatan.
“Jangan terburu-buru menempatkan kader di pucuk pimpinan. Mereka harus matang secara mental, keterampilan, dan kejiwaan agar tidak mudah patah di tengah jalan.”tuturnya
Teknologi Harus Menjadi Alat Dakwah
Dalam wawancara tersebut, Agus Rahmat Nugraha juga menyoroti tantangan kaderisasi di era digital.
Ia menilai teknologi membawa manfaat besar apabila dimanfaatkan sebagai alat untuk memperkuat dakwah dan gerakan organisasi, bukan dijadikan tujuan.
“Kalau teknologi diposisikan sebagai alat, orang akan selamat. Tetapi kalau teknologi menjadi tujuan, di situlah orang bisa celaka.”ungkapnya
Di akhir wawancara, ia kembali mengingatkan peserta bahwa keberhasilan PIDNAS tidak diukur dari empat hari pelaksanaan pelatihan, melainkan dari proses panjang setelahnya.
“Yang lebih penting bukan empat harinya, tetapi hari-hari setelahnya. Kader membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan mental yang kuat agar tidak rapuh menghadapi tantangan.”pungkasnya.
Penulis : Soni Tarsoni

















Komentar