WARTAGARUT.COM – Drs. KH Dadang Priatna resmi menerima amanah sebagai Ketua Yayasan Pesantren Cipari, Pangatikan, Kabupaten Garut, untuk masa bakti 2026-2031 dengan membawa tiga prioritas utama: penertiban administrasi, peningkatan disiplin, dan kesejahteraan aparatur yayasan.
Serah terima jabatan dan pelantikan pengurus Yayasan Pesantren Cipari tersebut berlangsung di Aula Yayasan Pesantren Cipari, Ahad (30/8/2026).
KH Dadang Priatna mengatakan, pembenahan administrasi akan menjadi langkah awal untuk memperjelas pertanggungjawaban antara yayasan dan unit-unit di bawahnya.
“Yang paling pokok penertiban administrasi, berjenjang, yayasan kemudian unit-unit supaya pertanggungjawaban jelas,” kata KH Dadang.
Selain administrasi, ia menempatkan peningkatan disiplin sebagai agenda penting dalam kepemimpinannya.
Pembinaan akan dilakukan secara berkala terhadap seluruh unsur yayasan, termasuk pesantren, madrasah dan dapur umum.
KH Dadang Priatna menyebut pembinaan tersebut rencananya dilakukan setiap bulan atau paling tidak tiga bulan sekali.
Materi pembinaan juga akan mengingatkan kembali nilai dan pesan para pendiri serta orang-orang terdahulu yang membangun yayasan.
Prioritas ketiga adalah peningkatan kesejahteraan seluruh aparatur yang berada di lingkungan yayasan, pesantren dan madrasah.
Isi Artikel
Laporan Rutin hingga Penguatan Dakwah
Untuk mendukung peningkatan disiplin dan tata kelola, KH Dadang Priatna berencana menerapkan sistem pelaporan secara rutin.
Menurutnya, laporan kegiatan akan dibuat setiap bulan melalui tautan khusus yayasan. Sementara rekapitulasi secara resmi akan dilakukan setiap tiga bulan.
“Yang pertama, untuk peningkatan kesejahteraan. Itu di antaranya program yang kita akan kerjakan, insya Allah,” ujarnya.
Selain pembenahan internal, KH Dadang Priatna menargetkan penguatan ukhuwah, administrasi lembaga pendidikan dan dakwah.
Salah satu gagasan di bidang dakwah adalah membina para santri agar memiliki kemampuan khutbah dan qiroah yang baik.
Santri yang telah dibina nantinya diharapkan dapat membantu kebutuhan dakwah di masjid-masjid yang membutuhkan khatib.
Kekurangan Personel Jadi Tantangan
KH Dadang Priatna mengakui salah satu tantangan yang akan dihadapi yayasan adalah keterbatasan personel.
Menurutnya, sebagian anggota keluarga yang selama ini menjadi bagian dari lingkungan yayasan telah memiliki kesibukan masing-masing, termasuk bekerja sebagai pegawai negeri, di perusahaan maupun di luar negeri.
Karena itu, yayasan berencana merekrut personel yang memiliki kemampuan di bidang administrasi. Perekrutan juga diharapkan dapat melibatkan alumni.
“Tantangan yang paling pokok itu kekurangan personel. Makanya tadi kita ingin mengangkat orang-orang yang memahami bidang administrasi,” katanya.
KH Dadang Priatna juga menekankan pentingnya kekompakan pengurus. Menurutnya, komunikasi melalui grup WhatsApp dapat dimanfaatkan untuk menyamakan persepsi dan menjaga koordinasi.
Ia menilai persatuan keluarga menjadi salah satu modal penting dalam menjalankan kepengurusan baru.
Sofwan Salaf Tinggalkan Pembenahan Manajemen dan Aset
Sementara itu, Ketua Yayasan Pesantren Cipari periode 2000-2026, Drs. Sofwan Salaf, M.Ag., menyampaikan sejumlah capaian selama memimpin yayasan.
Menurut Drs. Sofwan Salaf, fokus awal kepemimpinannya adalah pembenahan manajemen organisasi, penertiban aset, serta pembentukan unit-unit pendukung kinerja yayasan.
“Pertama yang kami lakukan itu pembenahan manajemen organisasi, kemudian yang kedua penertiban aset, dan yang berikutnya kami membentuk unit-unit sebagai pendukung kinerja yayasan,” ujar Drs. Sofwan Salaf.
Salah satu program yang menurutnya cukup berkesan adalah pengelolaan Dapur Umum (DU) dan koperasi.
Melalui dapur umum, kebutuhan santri mulai dari perencanaan, distribusi hingga aspek gizi dapat lebih terkontrol.
Sementara koperasi dibentuk untuk memenuhi berbagai kebutuhan pesantren, sekolah dan personel.
Drs. Sofwan Salaf menyebut koperasi yang baru berjalan sekitar dua tahun telah memiliki aset sekitar Rp300 juta.
Rp1,8 Miliar untuk Perluasan dan Pembangunan
Drs. Sofwan Salaf juga mengungkapkan adanya dana sekitar Rp1,8 miliar yang digunakan untuk pembangunan dan perluasan fasilitas yayasan.
Dana tersebut bersumber dari dana yayasan, sumbangan keluarga yayasan, bantuan Bupati Garut serta bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) BRI.
Sebagian dana digunakan untuk membeli dua bidang tanah, masing-masing di belakang pesantren putra dan di sekitar pesantren putri.
Selain itu, dana digunakan untuk pembangunan fisik, termasuk sarana pesantren putri.
“Dari semua itu kami bisa membangun dengan senilai hampir Rp2 miliar, yaitu Rp1,8 miliar,” ungkap Drs. Sofwan Salaf.
Menurut Drs. Sofwan Salaf, keterbatasan lahan menjadi salah satu tantangan utama selama kepemimpinannya. Kondisi tersebut membuat pembangunan ruang baru harus disesuaikan dengan ketersediaan lahan.
Ia juga menyebut kebutuhan transportasi dari jalan raya menuju lokasi pesantren yang berjarak sekitar 800 meter serta sarana olahraga sebagai kebutuhan yang masih perlu dikembangkan.
Untuk kepemimpinan baru, Drs. Sofwan Salaf berharap sistem yang telah dibangun dapat dilanjutkan dan dikembangkan.
“Kami berharap agar apa yang telah kami rintis, sistem yang telah kami bangun itu dilanjutkan, bahkan lebih ditingkatkan lagi dan dikembangkan,” katanya.
Pembina Tekankan Keberlanjutan
Ketua Pembina Yayasan Pesantren Cipari, Drs. KH Wawan Setiawan, M.Ag., mengatakan pergantian kepemimpinan dilakukan setelah masa kepengurusan sebelumnya berakhir.
KH Wawan Setiawan berharap kepemimpinan Dadang Priatna dapat menjaga keberlanjutan program sekaligus mendorong kemajuan pendidikan, terutama pesantren.
“Yang diharapkan adalah masalah keberlanjutan, sehingga pendidikan bisa lebih maju, khususnya pesantren,” ujar KH Wawan Setiawan.
Ia menekankan sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian pengurus baru, antara lain pembinaan guru, kurikulum, implementasi visi dan misi, serta pengembangan sarana.
Menurut KH Wawan Setiawan, guru menjadi salah satu kunci utama dalam pengembangan pendidikan.
“Yang penting masalah pembinaan guru, masalah kurikulum, implementasi visi-misi, kemudian juga pengembangan sarana. Karena kunci dari pendidikan itu kan guru,” tegasnya.
Ia juga menilai kekompakan keluarga yayasan selama ini menjadi modal penting untuk menjaga keberlangsungan organisasi dan menyelesaikan berbagai persoalan secara internal.
Dengan kepemimpinan baru periode 2026-2031, Yayasan Pesantren Cipari kini menghadapi agenda untuk melanjutkan program yang telah dibangun sekaligus memperkuat tata kelola, sumber daya manusia, pendidikan dan dakwah.***
Penulis : Soni Tarsoni

















Komentar