WARTAGARUT.COM – Generasi muda dinilai menjadi salah satu kelompok yang rentan menjadi sasaran propaganda ideologi kekerasan ekstrem di media sosial.
Karena itu, penguatan literasi digital dan ketahanan ideologi dinilai penting untuk membekali siswa dan mahasiswa menghadapi arus informasi di ruang digital.
Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertema “POLICA (Political Literacy and Ideological Awareness) Berbasis Media Sosial sebagai Bela Negara Generasi Muda Dalam Menangkal Ideologi Kekerasan Ekstrem di Kabupaten Garut” di Auditorium Rektorat Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut lantai 2, Jalan Terusan Pahlawan No. 32, Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Sabtu (29/8/2026).
Dekan Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Cecep Darmawan., S.H.,S.I.P., S.AP., S.Pd., M.Si.,M.H., CPM, mengatakan media sosial memiliki tingkat keterbukaan yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan propaganda.
Menurutnya, generasi muda menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian karena berada pada fase pencarian identitas dan sangat dekat dengan penggunaan perangkat digital.
“Kalau tidak dibekali literasi yang cukup, kemudian informasi yang memadai soal bahaya-bahaya tentang terorisme, radikalisme, banyak dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok yang memang menggaet anak-anak muda,” ujar Prof. Cecep Darmawan.
Isi Artikel
Generasi Muda Perlu Memahami Karakter Propaganda
Prof. Cecep Darmawan menilai persoalan utama bukan sekadar keberadaan media sosial, melainkan kemampuan pengguna dalam memahami dan menyaring informasi yang beredar di dalamnya.
Ia menyebut salah satu kesalahan generasi muda dalam menggunakan media sosial adalah kurangnya literasi ketika memasuki ruang publik digital.
“Kesalahannya iliterasi, dia terjun bebas, padahal itu ruang publik,” katanya.
Menurut Prof. Cecep Darmawan, konten yang perlu diwaspadai antara lain memiliki karakter propaganda dan provokasi.
Pengguna juga perlu memperhatikan sumber atau akun yang tidak jelas serta kemungkinan penggunaan rekayasa teknologi dalam pembuatan konten.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak sembarangan menyebarluaskan konten yang berpotensi memicu persoalan.
“Viralkan-viralkan itu hati-hati,” ujarnya.
Untuk membangun ketahanan ideologi generasi muda, Prof. Cecep Darmawan mendorong penguatan kohesivitas sosial dan pembinaan yang dilakukan secara intensif oleh berbagai pihak.
Ia menegaskan upaya tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Menurutnya, pendekatan pentahelix ABCGM perlu diaktifkan dengan melibatkan berbagai komponen, termasuk akademisi, dunia usaha, pemerintah, komunitas, dan media.
IPI Garut Dorong Literasi Digital dan Ketahanan Ideologi
Wakil Rektor I IPI Garut, Dr. Galih Abdul Fatah Maulani, M.Kom., mengatakan isu ekstremisme di ruang digital penting dibahas karena pemahaman masyarakat terhadap ruang digital menjadi semakin krusial.
Menurut Dr. Galih kegiatan POLICA diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada siswa dan mahasiswa mengenai cara berinteraksi secara lebih bijak di ruang digital sekaligus memperkuat nilai-nilai Pancasila.
“Jangan dulu sharing sebelum kita saring,” kata Dr. Galih.
Ia menjelaskan, literasi yang dibutuhkan tidak hanya berupa kemampuan menggunakan teknologi atau digital skill, tetapi juga mencakup information literacy dan kemampuan membangun ketahanan dalam menghadapi lingkungan digital atau digital resilience.
Dr. Galih mengatakan lingkungan pendidikan juga memiliki peran penting setelah kegiatan seminar berlangsung. Menurutnya, diperlukan kebijakan yang mendukung penerapan literasi digital di lapangan.
Di lingkungan sekolah, guru dinilai tidak cukup hanya berperan sebagai pengawas penggunaan teknologi.
Guru juga perlu membuka ruang diskusi agar siswa memiliki tempat untuk membicarakan berbagai informasi yang mereka temui di ruang digital.
“Jangan sampai siswanya itu justru mencari di ruang digital yang memang tertutup,” ujarnya.
IPI Garut, lanjut Galih, juga memiliki perhatian terhadap pengembangan literasi digital melalui bidang pendidikan yang berkaitan dengan teknologi informasi serta literasi.
Bela Negara Tidak Selalu Bersifat Militeristik
Dalam seminar tersebut, konsep bela negara juga dikaitkan dengan perilaku generasi muda di ruang digital.
Dr. Galih menilai bela negara pada era digital tidak harus selalu dipahami dalam konteks militeristik. Pengendalian perilaku dan emosi ketika menggunakan media sosial juga dapat menjadi bagian dari sikap tersebut.
Menurutnya, generasi muda perlu mampu mengendalikan penggunaan jari dan emosinya ketika berinteraksi di media sosial.
Sementara itu, Wakil Rektor IV IPI Garut, Dr. Asep Suparman, M.Pd., mengatakan seminar tersebut merupakan salah satu bentuk kontribusi institusi pendidikan dalam menjaga generasi muda dari pengaruh ideologi kekerasan ekstrem.
Ia menilai ruang media sosial berkembang secara luas dan tanpa batas sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan kesadaran ideologi di kalangan generasi muda.
Dr. Asep mengakui kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar yang skalanya masih terbatas. Namun, ia menilai kontribusi kecil tetap memiliki arti ketika dilakukan secara konsisten.
“Tidak ada langkah kecil yang sia-sia selama kita mau berkontribusi,” kata Dr. Asep.
Ia juga menekankan bahwa upaya membangun ketahanan generasi muda tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi pendidikan.
Lingkungan keluarga, menurutnya, memiliki peran penting dalam membentuk ketahanan tersebut.
Pemerintah dan Kampus Diminta Berbasis Data
Prof. Cecep Darmawan menambahkan, langkah pencegahan perlu dilakukan secara berbasis data dengan melibatkan berbagai komponen di daerah.
Pemerintah, kampus, sekolah, komunitas, tokoh masyarakat, serta unsur lainnya dinilai perlu aktif meningkatkan kesadaran mengenai ancaman yang muncul di ruang digital.
Ia juga mendorong generasi muda yang memiliki komunitas untuk ikut menyebarkan informasi yang baik kepada lingkungan sekitarnya.
Seminar Nasional POLICA tersebut diikuti siswa dan mahasiswa di Kabupaten Garut. Kegiatan menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Prof. Dr. Cecep Darmawan., S.H.,S.I.P., S.AP., S.Pd., M.Si.,M.H., CPM dari FPIPS UPI, Drs. Nurrodhin, M.Si. dari Bakesbangpol Kabupaten Garut, Dr. Leni Anggraeni, M.Pd., Dr. Mursyid Setiawan, M.Pd., serta Dr. Galih Abdul Fatah Maulani, M.Kom. dari IPI Garut.
Seminar juga dihadiri unsur pendidikan dan pemerintahan, termasuk Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Dr. H. Purwanto, S.Pd., M.Pd. dan Rektor IPI Garut Prof. Dr. Nizar Alam Hamdani, M.M., M.T., M.Si., M.Kom diwakili oleh Wakil Rektor IV IPI Garut, Dr. Asep Suparman, M.Pd.
Penulis : Soni Warta Garut
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar