WARTAGARUT.COM – Suasana Jumat pagi di STIKes Karsa Husada Garut (KHG) kini berbeda. Sejak 25 April 2025, Yayasan Dharma Husada Insani Garut (YDHIG) yang menaungi STIKes KHG resmi mengaktifkan kembali Gerakan Bersih Rapi (GBR) sebagai agenda rutin tiap Jumat pagi. Tak hanya membersihkan lingkungan kampus, kegiatan ini juga disertai olahraga bersama seperti basket, voli, tenis meja, hingga jalan santai.
Dimulai pukul 07.00 WIB dari Lapangan Kerkop Garut, ratusan dosen, karyawan, hingga mahasiswa terlibat aktif dalam rangkaian kegiatan yang penuh semangat ini.
Ketua Pembina YDHIG, Dr. H. Hadiat, M.A., mengungkapkan bahwa kegiatan ini hadir sebagai bentuk pembiasaan hidup sehat dan upaya pencegahan penyakit, terutama di lingkungan perguruan tinggi kesehatan.
“Kita ingin membangun budaya bersih, rapi, sehat, dan religius. Karena sebagai institusi kesehatan, mahasiswa dan dosen harus menjadi contoh dalam gaya hidup sehat,” ujar Dr. H. Hadiat.
Ia menambahkan, kini seluruh aktivitas akademik STIKes KHG di hari Jumat akan dimulai setelah pukul 09.00 WIB agar ada ruang bagi seluruh civitas kampus untuk berolahraga dan membersihkan lingkungan secara bersama-sama.
“Kita geser jadwal belajar hari Jumat, supaya pagi harinya kita gunakan untuk olahraga dan kegiatan kebersamaan,” tambahnya.
Bukan hanya kegiatan rutin kampus, GBR juga akan dikembangkan menjadi kegiatan rekreatif sebulan sekali dengan menjelajahi tempat wisata lokal, seperti Cipanas atau Situ Bagendit, sambil berolahraga bersama.
“Kita ingin menghidupkan budaya disiplin, kebersihan, dan kerapian layaknya negara-negara maju seperti Jepang. Bukan tidak mungkin kita bisa memulai dari lingkungan kecil seperti kampus ini,” katanya.
Ke depan, fasilitas olahraga seperti panahan juga akan dikembangkan. Bahkan lahan kosong di area asrama dirancang sebagai lapangan panahan karena minat peserta yang terus bertambah.
“Kami ingin menciptakan habit positif. Dengan lingkungan bersih dan hati yang bersih, maka kegiatan akademik pun bisa berjalan lebih nyaman dan berkah,” tutup Dr. Hadiat.
Sementara itu, Ketua STIKes Karsa Husada Garut, H. Engkus Kusnadi, S.Kep., M.Kes, menyatakan pihak kampus mendukung penuh inisiatif yayasan ini dan akan menjadikan kegiatan tersebut sebagai bagian dari kalender akademik
“Kami apresiasi penuh program ini. Hari Jumat jadi momen penguatan kesehatan jasmani dan rohani. Mahasiswa, dosen, dan pegawai sama-sama terlibat,” ungkapnya.
Ia mengatakan bahwa pihaknya akan menetapkan proses pembelajaran pada hari Jumat akan dimulai setelah waktu salat Jumat.
Sebelum itu, seluruh civitas akademika didorong untuk mengikuti kegiatan kebersihan dan olahraga.
“Hari Jumat itu sebelum Jumatan, kita fokuskan untuk kegiatan olahraga dan bersih-bersih. Ini juga bagian dari membangun nilai religiusitas. Kita mulai dari lingkungan yang bersih, hati yang bersih, baru masuk ke kegiatan akademik,” jelas Engkus.
H Engkus menegaskan bahwa Kegiatan ini juga dirancang sebagai ajang mempererat hubungan antar komponen kampus, mulai dari yayasan, dosen, staf, hingga mahasiswa.
“Langkah ini sejalan dengan visi kampus sebagai institusi pendidikan di bidang kesehatan yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga menanamkan kebiasaan hidup sehat dan bersih kepada para mahasiswa calon tenaga kesehatan masa depan,”ungkapnya..
Ketua Pengurus YDHIG, Drs. H. Suryadi, M.Si, juga menjelaskan bahwa GBR adalah bentuk menghidupkan kembali semangat lama yang sempat padam karena padatnya aktivitas akademik.
“Dulu semangat olahraga dan kebersihan itu tinggi. Sekarang kita hidupkan lagi dengan kebijakan yang lebih serius,” ujarnya.
Sedangkan Bendahara YDHIG, Ir. Budi Setiabudi, menyebut ada 4–5 cabang olahraga aktif dalam kegiatan ini seperti bulutangkis, bola voli, tenis meja, senam sehat, serta jalan santai.
“Yang terpenting adalah semangat kebersamaan. Harapannya ini tidak hanya berdampak ke internal kampus, tapi juga bisa jadi contoh bagi masyarakat luas,” jelasnya.
Kegiatan Gerakan Bersih Rapi ini menjadi upaya nyata STIKes KHG dalam menciptakan lingkungan kampus yang sehat, produktif, dan religius.
Dengan keterlibatan semua elemen, dari yayasan, pegawai, hingga mahasiswa, program ini berpotensi menjadi budaya positif yang membentuk karakter lulusan kesehatan yang tangguh dan peduli lingkungan.***














