WARTAGARUT.COM – Memasuki tahun kedua, PT Surya Garut Abadi (SGA) mulai memperluas langkah.
Badan usaha milik Muhammadiyah (BUMM) ini tidak lagi hanya berkutat pada suplai kebutuhan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi mulai mengembangkan sejumlah unit usaha untuk menopang kemandirian ekonomi dan perjuangan dakwah Muhammadiyah di Kabupaten Garut.

Direktur Utama PT Surya Garut Abadi, H. Ismar Zakaria, A.Md., mengatakan PT SGA berdiri pada 28 Juli 2025.
Setelah berjalan lebih dari satu tahun, perusahaan kini memiliki 10 karyawan dan telah menangani kebutuhan suplai untuk tujuh dapur MBG milik Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut.

Perjalanan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan Baitul Arqam PT Surya Garut Abadi yang berlangsung selama dua hari, 21-22 Agustus 2026, di Hortensia Garden, Perkebunan Cisaruni, Cilawu, Kabupaten Garut.
Bagi H. Ismar, Baitul Arqam bukan sekadar agenda pembinaan rutin bagi karyawan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bekerja secara profesional sekaligus memahami nilai Islam dan Kemuhammadiyahan.
“Baitul Arqam ini pintu gerbang supaya karyawan-karyawan kami lebih beriman dan bertakwa dan berpikir al-Kemuhammadiyahan,” kata H. Ismar.
Isi Artikel
Dari Tujuh Dapur MBG hingga Pengembangan Batik
Ketika pertama kali berdiri, PT SGA langsung diarahkan untuk mengelola kebutuhan bahan baku dan suplai makanan bagi dapur-dapur MBG milik PDM Garut.
Dari perjalanan awal tersebut, perusahaan kemudian berkembang.
Jika pada awal berdiri hanya terdapat satu karyawan, kini jumlahnya mencapai 10 orang.
H. Ismar mengatakan perkembangan PT SGA tidak berhenti pada sektor MBG.
Pada Juni 2026, perusahaan mulai mengembangkan Batik Muhammadiyah sebagai unit usaha berikutnya.
Jumlah batik yang telah diproduksi dan disalurkan, kata H. Ismar, kini mencapai sekitar 1.900 potong.
Jumlah itu meningkat dari sebelumnya sekitar 1.600 potong.
Sementara itu, jumlah siswa di lingkungan pendidikan PDM Muhammadiyah Garut mencapai sekitar 4.400 orang.
“Dari total 4.400-an siswa PDM Garut, kita baru sekitar 35 persen. Ini tanggung jawab PR kita ke depan,” ujar H. Ismar.
Targetnya, penggunaan seragam batik Muhammadiyah dapat diperluas hingga seluruh siswa kelas satu pada tahun berikutnya.
Dengan demikian, pengembangan batik bukan hanya ditempatkan sebagai aktivitas perdagangan, tetapi juga bagian dari upaya membangun unit usaha yang memiliki pasar di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah sendiri.
PDM Garut: PT SGA Bukan Sekadar Perusahaan
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut, Dr. Agus Rahmat Nugraha, M.Ag., M.Pd., melihat posisi PT SGA dalam perspektif yang lebih luas.
Menurutnya, keberadaan BUMM tersebut tidak semata-mata diukur dari aktivitas bisnis dan keuntungan perusahaan.
PT SGA diharapkan menjadi instrumen untuk menggerakkan ekonomi umat dan masyarakat.
“BUMM PT SGA tidaklah sekadar perusahaan bisnis ekonomi semata, akan tetapi institusi ini adalah anak panah bagi bangkitnya ekonomi umat, ekonomi rakyat, dan ekonomi kebangsaan,” kata Dr. Agus.
Karena itu, PDM Garut terus memberikan dukungan agar PT SGA dapat tumbuh dengan semangat kemandirian sekaligus memberi manfaat kepada lebih banyak pihak.
Dukungan itu, menurut Dr. Agus, diarahkan melalui optimalisasi pelayanan, pemberdayaan, dan pencerahan sebagai bagian dari dakwah amar makruf nahi munkar sekaligus jihad ekonomi.
Menyiapkan Distribusi Pupuk untuk Petani
Setelah MBG dan batik, PT Surya Garut Abadi mulai menyiapkan pengembangan usaha berikutnya.
H. Ismar mengatakan perusahaan tengah mempersiapkan kerja sama dengan sebuah pabrik pupuk yang memiliki keterkaitan dengan warga Muhammadiyah.
Dalam rencana tersebut, PT SGA akan mengambil peran sebagai distributor pupuk untuk petani dan jemaah Muhammadiyah di Garut.
Rencana itu diharapkan dapat membuka ruang usaha baru sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi warga Muhammadiyah.
“Insya Allah target kita yang ketiga di tahun ini kita akan bekerja sama dengan pabrik pupuk,” ujar H. Ismar.
Namun, kerja sama tersebut masih berada pada tahap persiapan sehingga belum dapat disebut sebagai unit usaha yang telah berjalan.
Selain sektor pertanian, PT SGA juga tengah merintis pengembangan bidang kesehatan.
H. Ismar menyebut pihaknya sedang menjajaki kemungkinan menghadirkan klinik PDM Muhammadiyah Garut.
Dalam jangka lebih panjang, ia berharap rintisan tersebut dapat berkembang menjadi rumah sakit PKU PDM Muhammadiyah Garut.
Ekonomi yang Terhubung dengan Jejaring Muhammadiyah
Direktur Keuangan PT Surya Garut Abadi, Agus Barkah, menjelaskan bahwa sejak awal perusahaan mencoba membangun model bisnis yang melibatkan jejaring Persyarikatan Muhammadiyah.
Menurutnya, kebutuhan bahan makanan untuk dapur MBG tidak hanya dipenuhi melalui mekanisme bisnis biasa, tetapi juga mengutamakan jejaring Muhammadiyah.
Mulai dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM), Jaringan Tani Muhammadiyah (Jatam), hingga pihak lain dalam Persyarikatan Muhammadiyah dapat terlibat dalam rantai pasok tersebut.
“Yang menarik dari perusahaan ini, bisa dikatakan ekonomi yang bercampur sosial,” kata Agus.
Konsep tersebut membuat aktivitas bisnis PT SGA sekaligus menjadi ruang pemberdayaan.
Produk atau bahan yang berasal dari Jaringan Tani Muhammadiyah (JATAM) tersebut kemudian disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dapur-dapur MBG.
Dengan pola seperti itu, perusahaan berusaha membangun perputaran ekonomi yang tidak hanya berhenti di perusahaan, tetapi juga melibatkan warga dan jaringan Muhammadiyah.
Baitul Arqam dan Arah Baru PT SGA
Di tengah rencana pengembangan usaha, H. Ismar menilai penguatan sumber daya manusia menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan.
Baitul Arqam yang berlangsung di Cilawu menjadi momentum untuk membekali karyawan dengan pemahaman Kemuhammadiyahan sebelum perusahaan memasuki ruang usaha yang lebih luas.
H. Ismar mengatakan PT SGA ingin karyawannya mampu bekerja dengan standar profesional, tetapi tetap membawa nilai yang menjadi bagian dari gerakan Muhammadiyah.
Ia merujuk pada semangat Al-Ma’un yang mengajarkan kepedulian terhadap kelompok yang membutuhkan.
“Kita bekerja harus bernafaskan Al-Ma’un. Di situ ada tiga kebaikan, kita melihat dari fakir miskin, kita melihat yatim piatu, kita juga bekerja dengan kesederhanaan tapi menghasilkan kinerja-kinerja yang profesional,” tuturnya.
Bagi H. Ismar, pembinaan tersebut menjadi bekal ketika PT SGA menerima amanah yang lebih besar pada masa mendatang.
Perusahaan ingin tumbuh bukan hanya dari sisi jumlah usaha, tetapi juga memiliki kemampuan ekonomi sendiri sehingga tidak terus bergantung pada sumber pendanaan dari luar.
“PT Surya Garut Abadi ini harus mandiri, memiliki penghasilan, memiliki ekonomi pribadi sendiri yang berakar dari perjuangan Muhammadiyah dari warga Muhammadiyah itu sendiri,” katanya.***
Penulis : Soni Warta Garut
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar