WARTAGARUT.COM –Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut bersama Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan ICA BPC Garut menggelar Pelatihan dan Sertifikasi BNSP Food Handler dan Demi Chef bagi 34 calon kepala dapur Muhammadiyah, bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Garut, Sabtu (6/12/2025).
Kegiatan ini digelar untuk memenuhi regulasi baru BGN yang mewajibkan setiap dapur SPPG memiliki chef bersertifikat resmi.
Sekretaris PDM Garut Deden Wahyudi, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa sertifikasi ini menjadi kebutuhan mendesak dalam peningkatan mutu dapur layanan Muhammadiyah.
“BGN mensyaratkan setiap SPPG memiliki SEP berlisensi BNSP. Karena itu para chef dan kepala dapur harus diuji kompetensinya jauh-jauh hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, keberadaan chef bersertifikat berpengaruh pada kualitas pelayanan hingga jumlah penerima manfaat.
“Jika dapur tidak memiliki chef, nilai manfaatnya kecil. Bisa sampai Rp3.000 per penerima manfaat bila ada chef yang tersertifikasi,” tambahnya.
Peserta pelatihan berasal dari dapur-dapur Muhammadiyah di Garut dan sejumlah daerah lain, termasuk perwakilan dari Cileungsi, Bogor. Dari total 34 peserta, sebanyak 12 berasal dari dapur Muhammadiyah.
Perwakilan LSP RHN Rajawali Hospitality Nusantara, Reza Ruhyana, menyebut Muhammadiyah Garut sebagai pelaksana batch pertama untuk sertifikasi chef MBG.
“Pelatihan ini untuk meningkatkan skill dan memastikan legalitas profesi. Sertifikat BNSP jadi bukti bahwa mereka diakui sebagai juru masak profesional,” jelasnya.
Ketua ICA DPC Garut, Pasya Tri Jaya, menegaskan bahwa sertifikasi dilakukan secara ketat.
“Chef bukan tukang masak. Mereka harus menguasai perencanaan menu, penyusunan resep, hingga pengelolaan bahan baku. Uji kompetensi memastikan mereka benar-benar qualified,” katanya.
Ia menambahkan, ICA akan mulai melakukan pengawasan pada 2026 setelah proses MoU dengan BGN rampung.
Ketua MBP Foundation sekaligus penyelenggara kegiatan, Imam Purnama, menjelaskan bahwa pelatihan meliputi 16 materi standar BGN, mulai dari hygiene sanitasi, teknik pengolahan, hingga penyajian.
“Sertifikasi ini penting karena makanan berhubungan langsung dengan kesehatan bahkan nyawa. Dengan standar yang jelas, risiko KLB dan keracunan bisa ditekan,” ungkapnya.
Kegiatan ini menjadi komitmen Muhammadiyah Garut untuk meningkatkan profesionalitas dapur MBG sekaligus memastikan distribusi makanan yang higienis, aman, dan bernutrisi bagi para penerima manfaat. ***
Penulis : Soni Tarsoni








