WARTAGARUT.COM – Bupati Garut ke-26, H. Rudi Gunawan, S.H., M.H., MP, menyoroti serius krisis tenaga dokter di Kabupaten Garut saat menghadiri peresmian Institut Kesehatan Karsa Husada Garut (IKKHG), Jumat (23/1/2026).
Dalam agenda tersebut, Rudi Gunawan menegaskan bahwa kekurangan dokter menjadi tantangan utama pembangunan layanan kesehatan di daerah dengan penduduk hampir 2,8 juta jiwa.
Kehadiran Rudi Gunawan dalam kegiatan tersebut sekaligus dalam rangka menghadiri rangkaian agenda strategis dunia pendidikan dan kesehatan, mulai dari Milad ke-22 Yayasan Dharma Husada Insani Garut (YDHIG), peresmian alih bentuk STIKes Karsa Husada Garut menjadi Institut Kesehatan Karsa Husada Garut (IKHG), pelantikan rektor pertama, hingga peresmian Gedung Kampus 3 di Jalan Proklamasi, Kecamatan Tarogong Kidul.
Dalam acara tersebut, H. Rudi Gunawan juga dilantik sebagai Komite Etik Bidang Hukum Yayasan Dharma Husada Insani Garut (YDHIG) sekaligus Dewan Pembina Institut Kesehatan Karsa Husada Garut (IKKHG).
Dalam sambutannya, Rudi Gunawan menegaskan bahwa momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan tonggak penting pembangunan kesehatan daerah. Ia menyebut ada tiga makna besar yang patut disyukuri dalam kegiatan tersebut.
“Pertama, kita mensyukuri peringatan Isra Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW. Kedua, kita bersyukur atas ulang tahun Yayasan Dharma Husada Insani Garut yang ke-22. Ketiga, tentu pelantikan rektor Institut Kesehatan Karsa Husada Garut seiring alih status dari STIKes menjadi institut,” ujar Rudi Gunawan.
Menurut Rudi, perubahan status kelembagaan ini menjadi peluang besar bagi Garut untuk memperkuat komitmen negara dalam perlindungan sosial bidang kesehatan dan ketenagakerjaan.
Ia merujuk pada Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional serta Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS.
“Negara wajib memberikan perlindungan sosial terhadap kesehatan dan ketenagakerjaan. Tidak boleh ada perbedaan antara rakyat kaya dan miskin. Semua harus mendapatkan perlindungan yang sama. Itu amanat undang-undang dan komitmen kita dengan WHO tentang perlindungan kesehatan semesta,” tegasnya.
Rudi juga memaparkan tantangan nyata layanan kesehatan di Garut, khususnya keterbatasan fasilitas dan tenaga medis.
Ia mengungkapkan bahwa Garut masih kekurangan lebih dari seribu tempat tidur rumah sakit, meski puskesmas dengan tempat perawatan (DTP) telah menambah kapasitas sekitar 500 bed.
“Kekurangan ini adalah jaminan yang harus dibangun oleh negara. Pembangunan kesehatan ke depan harus lebih terencana dan berkelanjutan,” katanya.
Sorotan utama Rudi Gunawan tertuju pada krisis dokter di Garut. Ia menyebut, dalam berbagai rekrutmen tenaga medis, baik dokter umum maupun dokter gigi, peminatnya masih sangat terbatas.
“Garut ini kekurangan dokter. Ketika Dinas Kesehatan membuka lowongan, sering kali tidak terpenuhi. Dengan penduduk sekitar 2,8 juta jiwa, kita membutuhkan banyak dokter. Jangan terus bergantung dari luar daerah. Kita harus mencetak dokter dari Garut sendiri,” ucapnya.
Karena itu, ia berharap Institut Kesehatan Karsa Husada Garut ke depan mampu mewujudkan pendirian fakultas kedokteran sebagai bagian dari penguatan sumber daya manusia kesehatan lokal.
“Sekali lagi saya berharap, ayo kita wujudkan bersama-sama agar sumber daya kesehatan Kabupaten Garut lebih berkualitas. Dengan gotong royong semua pihak, Institut Kesehatan Karsa Husada Garut harus menjadi institusi yang semakin baik dan berdampak nyata bagi masyarakat,” pungkas Rudi Gunawan.***
Penulis : Soni Tarsoni
















