WARTAGARUT.COM– Inovasi energi terbarukan lahir dari tangan akademisi dan warga Garut. Tim Pengabdian Masyarakat STIKes Karsa Husada Garut sukses memberdayakan masyarakat RW 15, Desa Sindanggalih, Karangpawitan, melalui program pengolahan limbah buah pinus dan bonggol jagung menjadi briket energi berkelanjutan.
Program ini berlangsung Juni hingga 30 Agustus 2025 sebagai bagian dari Hibah Pengabdian Masyarakat Kemendiktisaintek.
Ketua tim pelaksana, Andhika Lungguh Perceka, S.Kom., M.Si., menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pelatihan, melainkan strategi membangun kemandirian energi lokal.
“Kami memanfaatkan limbah pertanian dan kehutanan yang selama ini dianggap tidak bernilai.
Dengan teknologi sederhana, masyarakat bisa memproduksi briket yang ramah lingkungan, murah, dan bernilai ekonomi,” ujar Andhika.
Tim pelaksana yang terdiri dari Andhika Lungguh Perceka, Elang Mohamad Atoilah, dan Hj. N. Ai Erlinawati, bersama mahasiswa STIKes KHG, melibatkan langsung warga RW 15.
Briket hasil produksi sudah diuji untuk kebutuhan rumah tangga dan akan dipasarkan melalui e-commerce sebagai peluang usaha baru.
Manfaat dari program ini terasa nyata:
Ekonomi: membuka sumber pendapatan baru lewat produksi dan penjualan briket.
Lingkungan: mengurangi pencemaran limbah pertanian dan kehutanan.
Energi: menghadirkan alternatif bahan bakar murah untuk rumah tangga maupun industri kecil.
Sosial: memperkuat gotong royong dan kesadaran kolektif tentang energi bersih.
Lebih jauh, program ini juga meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah limbah dengan teknologi tepat guna.
“Kami berharap inovasi ini bisa memperkuat ketahanan energi lokal dan menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengembangkan energi terbarukan berbasis komunitas,” tambah Andhika.
Inovasi briket ramah lingkungan menjadikan Garut bukan hanya kota wisata, tetapi juga pionir energi alternatif berbasis masyarakat.***
Penulis : Soni Tarsoni









