WARTAGARUT.COM – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Garut mulai mengimplementasikan digitalisasi data anggota melalui aplikasi SatuMu.
SatuMu adalah platform digital terpadu yang mendukung tata kelola Persyarikatan Muhammadiyah dan membangun Satu Data Muhammadiyah melalui integrasi layanan keanggotaan, organisasi, iuran, dan layanan lainnya.
Program ini ditargetkan selesai di seluruh pimpinan cabang dan ranting pada pertengahan Agustus 2026 sebagai bagian dari amanah Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Pelaksanaan tersebut dimulai melalui Bimbingan Teknis (BIMTEK) SatuMu Pimpinan Cabang Muhammadiyah se-Kabupaten Garut Region 1 di Gedung Dakwah Muhammadiyah Garut, Sabtu (1/8/2026).
Ketua PDM Garut, Dr. Agus Rahmat Nugraha, M.Ag., M.Pd., mengatakan implementasi SatuMu bukan sekadar memperbarui data anggota, tetapi juga membangun sistem administrasi organisasi yang lebih akurat, aman, dan modern.
“Kegiatan BIMTEK ini merupakan amanah dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mewujudkan keterpaduan data anggota Muhammadiyah se-Indonesia. Di Garut baru kita mulai awal Agustus dan kami targetkan pertengahan Agustus seluruh cabang dan ranting sudah menyelesaikannya,” ujarnya.
Menurut Dr. Agus, digitalisasi juga menjadi langkah penting untuk memastikan data anggota selalu mutakhir, termasuk memperbarui informasi anggota yang telah meninggal dunia maupun yang berpindah domisili.
“Kita ingin memastikan bahwa yang berdomisili di Garut benar-benar masih aktif beraktivitas. Selain itu, keamanan data pribadi anggota juga lebih terjamin karena dikelola melalui sistem yang sudah disiapkan secara modern oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah,” katanya.
Digitalisasi Dukung Konsolidasi Organisasi
Ia menjelaskan, data yang akurat akan memperkuat konsolidasi organisasi, terutama menjelang pelaksanaan muktamar sebagai forum permusyawaratan tertinggi Muhammadiyah.
Menurutnya, validitas data akan menentukan siapa saja anggota aktif yang memiliki hak dan keterlibatan dalam setiap proses musyawarah, mulai dari tingkat ranting hingga muktamar.
“Kalau muktamar tertib, maka musyawarah di bawahnya juga akan tertib. Kita ingin memberikan apresiasi kepada anggota yang aktif agar layanan keorganisasiannya benar-benar mereka rasakan,” ungkapnya.
Dr. Agus menambahkan, melalui sistem SatuMu, konsep ta’awun atau saling membantu juga diharapkan berjalan lebih optimal karena pengelolaan iuran anggota dapat kembali memberikan manfaat kepada anggota secara tepat sasaran.
Tantangan Ada pada Perubahan Pola Pikir
Meski demikian, ia mengakui penerapan sistem digital masih menghadapi tantangan, terutama di Kabupaten Garut yang memiliki wilayah cukup luas dan kondisi sumber daya manusia yang beragam.
Menurutnya, hambatan terbesar bukan terletak pada teknologi, melainkan perubahan pola pikir dari sistem manual menuju digital.
“Bukan sulit sebetulnya, tetapi yang sulit adalah mengubah mindset. Yang biasanya manual sekarang harus digital. Karena itu dibutuhkan kolaborasi antara generasi muda dengan para senior agar proses adaptasi berjalan lebih baik,” jelasnya.
Ia mengajak seluruh pimpinan cabang Muhammadiyah di Kabupaten Garut untuk memiliki kesungguhan dalam menjalankan amanah tersebut.
“Tidak ada yang sulit kalau ada keseriusan dan kesungguhan. Jangan berpikir dulu tentang sulitnya atau kendalanya, karena itu justru sering menjadi mental block. Hilangkan mental block itu agar kita bisa menjalankan amanah ini dengan baik,” tegas Agus Rahmat.
Baginya, implementasi SatuMu menjadi salah satu wujud Muhammadiyah berkemajuan yang mampu memanfaatkan teknologi digital sebagai instrumen utama dalam memperkuat tata kelola organisasi.
“SatuMu adalah inovasi baru yang menunjukkan citra Muhammadiyah berkemajuan. Digital bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi menjadi pilar utama untuk menerjemahkan nilai-nilai kemajuan dalam organisasi,” pungkasnya.***
Penulis : Soni Tarsoni


















Komentar