WARTAGARUT.COM – SMK Muhammadiyah Garut memperkuat kolaborasi dengan orang tua murid melalui rapat bersama Komite Sekolah yang digelar selama dua hari, 27–28 Juli 2026, di Aula SMK Muhammadiyah Garut.
Pertemuan ini menjadi momentum membangun komunikasi, memperkuat kepercayaan, sekaligus menyatukan komitmen dalam mendukung pendidikan peserta didik pada tahun ajaran 2026/2027.
Di tengah persaingan yang semakin ketat dengan sekolah lain, SMK Muhammadiyah Garut juga mencatat peningkatan jumlah peserta didik baru.
Tahun ini SMK Muhammadiyah Garut menerima 184 murid baru, meningkat dibandingkan jumlah lulusan tahun sebelumnya yang mencapai 156 murid.
Isi Artikel
Komite Jadi Penghubung Orang Tua dan Sekolah
Ketua Komite SMK Muhammadiyah Garut, Asep Burhanuddin, S.Ag., MH., MM, mengatakan pertemuan tersebut bukan sekadar agenda rutin, tetapi menjadi wadah membangun hubungan yang lebih erat antara sekolah dan orang tua.
“Pertemuan ini yang pertama untuk silaturahmi antara komite dengan orang tua wali murid. Kami juga menjelaskan fungsi komite agar orang tua memahami peran kami sebagai mitra sekolah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, komite memiliki tugas menampung berbagai aspirasi, harapan, maupun masukan dari orang tua.
Selain itu, komite juga berperan menjadi jembatan komunikasi apabila muncul persoalan yang melibatkan murid maupun keluarga dengan pihak sekolah.
“Kalau ada persoalan, jangan sampai langsung berujung pada keputusan yang tidak diinginkan. Komite siap menjembatani agar semuanya bisa diselesaikan melalui musyawarah,” kata Asep.
Menurutnya, kepercayaan antara sekolah dan orang tua menjadi fondasi penting dalam mendidik anak. Sekolah bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran, sedangkan pembinaan di luar lingkungan sekolah tetap menjadi tanggung jawab keluarga.
Ia menegaskan, partisipasi orang tua dalam mendukung pengembangan sekolah juga selalu mengedepankan musyawarah.
“Kalau suatu saat sekolah membutuhkan partisipasi untuk pengembangan sarana atau program tertentu, semuanya akan dibahas bersama. Tidak ada paksaan, semuanya berdasarkan kesepakatan,” tegasnya.
Aspirasi Orang Tua Soal KIP Ikut Dibahas
Dalam dialog bersama wali murid, sejumlah aspirasi juga disampaikan, salah satunya mengenai keberlanjutan Program Indonesia Pintar (KIP) bagi murid yang sebelumnya menerima bantuan saat masih duduk di bangku SMP.
Menanggapi hal itu, pihak sekolah menjelaskan bahwa orang tua dipersilakan mengajukan kembali data penerima KIP melalui sekolah.
Selanjutnya, sekolah akan melakukan pendataan sebelum mengusulkannya kepada instansi yang berwenang.
“Sekolah hanya mengusulkan data penerima. Soal pencairan maupun penetapan penerima merupakan kewenangan pemerintah,” jelas Asep.
Penerimaan Siswa Baru Meningkat
Sementara itu, Kepala SMK Muhammadiyah Garut, Yan Yan Hermawan, S.Pd.I, mengungkapkan peningkatan jumlah peserta didik baru menjadi kabar menggembirakan bagi sekolah.
Menurutnya, capaian tersebut diraih di tengah persaingan dengan berbagai sekolah swasta lain, termasuk hadirnya program sekolah swasta kerja sama yang didukung pemerintah provinsi.
“Alhamdulillah tahun ini ada 184 murid baru, meningkat dibandingkan lulusan tahun kemarin yang berjumlah 156 murid. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan,” ujarnya.
Yan Yan menyebut keberhasilan tersebut tidak lepas dari sosialisasi yang telah dilakukan sejak awal tahun.
“Kami mulai bergerak sejak Januari dengan melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah, masyarakat, hingga komunitas. Itu menjadi salah satu upaya mengenalkan program-program unggulan sekolah,” katanya.
Menariknya, sekitar 90 persen peserta didik baru mendaftar langsung ke SMK Muhammadiyah Garut, bukan karena tidak diterima di sekolah lain.
“Alhamdulillah sekitar 90 persen siswa memang memilih langsung ke sekolah kami. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terus meningkat dan SMK Muhammadiyah Garut menjadi salah satu sekolah tujuan,” ungkapnya.
Tambah Program Beasiswa untuk Siswa Aktif
Pada tahun ajaran 2026/2027, sekolah juga memperluas program beasiswa. Selain beasiswa prestasi akademik dan nonakademik, kini tersedia beasiswa pembebasan SPP bagi siswa yang aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) maupun Hizbul Wathan (HW).
Sebanyak 45 kuota disiapkan melalui program tersebut. Pendanaannya berasal dari program orang tua asuh yang melibatkan guru-guru di lingkungan sekolah.
“Guru-guru kami menjadi orang tua asuh. Ada yang membiayai satu siswa, bahkan ada yang lebih. Program ini diprioritaskan bagi siswa kurang mampu yang juga aktif dan berprestasi,” jelas Yan Yan.
Program Keagamaan dan Kerja Sama Industri Jadi Daya Tarik
Selain beasiswa, Yan Yan menilai program pembinaan karakter berbasis keagamaan menjadi salah satu alasan masyarakat memilih SMK Muhammadiyah Garut.
Kegiatan seperti salat duha berjamaah, tadarus Al-Qur’an, hafalan, hingga pembinaan karakter menjadi bagian dari aktivitas rutin siswa.
Di bidang prestasi, sekolah juga aktif mengikuti berbagai perlombaan. Tahun ini, siswa SMK Muhammadiyah Garut meraih Juara III FLS3N tingkat Kabupaten Garut untuk lomba cipta puisi serta Juara III O2SN cabang pencak silat.
Sementara untuk meningkatkan kesiapan lulusan memasuki dunia kerja, sekolah telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan dan dunia industri, di antaranya Ramayana, PT Wuling, serta beberapa lembaga perbankan seperti Bank BJB Syariah dan BRI.
Tak hanya itu, beberapa lulusan juga berhasil melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, bahkan tiga alumni dinyatakan lulus seleksi TNI.
Perkuat Kolaborasi Demi Kemajuan Sekolah
Menutup pertemuan tersebut, Yan Yan berharap hubungan antara sekolah dan orang tua semakin erat sehingga proses pembinaan siswa dapat berjalan selaras, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
“Harapan kami, sinergi ini terus terjaga. Pendidikan anak tidak cukup hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan dan pendampingan dari orang tua di rumah. Dengan kolaborasi yang baik, kami optimistis kualitas pendidikan di SMK Muhammadiyah Garut akan terus meningkat,” pungkasnya.
Penulis : Soni Tarsoni


















Komentar