WARTAGARUT.COM – SMK Muhammadiyah Garut menggelar uji kompetensi bagi siswa kelas XII dari enam jurusan sebagai bagian dari evaluasi pembelajaran tiga tahun.
Kegiatan ini melibatkan penguji dari perusahaan nasional dan lembaga bersertifikat untuk memastikan standar kompetensi industri terpenuhi.
Uji kompetensi tersebut menjadi tahap penting sebelum siswa memasuki dunia kerja, melanjutkan pendidikan tinggi, atau berwirausaha mandiri.
SMK Muhammadiyah Garut resmi melaksanakan uji kompetensi atau sertifikasi kompetensi bagi seluruh siswa kelas XII di enam program keahlian.
Kepala SMK Muhammadiyah Garut, Yan Yan Hermawan, S.Pd.I, menjelaskan bahwa evaluasi ini merupakan rangkaian penilaian akhir terhadap kemampuan siswa setelah menempuh pendidikan sejak kelas X hingga XII.
“Kegiatan ini dilakukan untuk menguji kompetensi siswa sesuai jurusannya, sehingga hasilnya benar-benar mencerminkan standar industri,” ujarnya.
Enam jurusan yang mengikuti sertifikasi meliputi Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO), Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL), Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Otomatisasi Tata Kelola Perkantoran (OTKP), Teknik Bisnis Sepeda Motor (TBSM), serta Bisnis Daring dan Pemasaran (BDP).
Setiap kompetensi diuji langsung oleh perusahaan berskala nasional maupun lembaga resmi yang berwenang mengeluarkan sertifikat kompetensi.
Yan Yan menjelaskan bahwa seluruh penguji berasal dari mitra industri besar. Untuk jurusan otomotif TBSM dan TKRO ujiannya dilakukan oleh Honda, sedangkan jurusan akuntansi dan administrasi perkantoran diuji oleh BNI.
Adapun jurusan RPL diuji oleh tim dari Telkomsel, sementara jurusan pemasaran menggandeng Ramayana Mall.
“Mitra yang kami libatkan semuanya perusahaan nasional, bukan lokal. Mereka punya kewenangan dan standar ketat sesuai kebutuhan dunia kerja,” jelasnya.
Setiap siswa yang lulus akan memperoleh sertifikat resmi dari industri atau lembaga penguji. Sertifikat ini dinilai menjadi modal penting bagi siswa ketika melamar pekerjaan.
“Ketika perusahaan melihat ada sertifikat kompetensi dari BNI, Honda, atau Telkomsel, ini menjadi pertimbangan besar bagi mereka. Artinya siswa telah diuji oleh lembaga profesional,” kata Yan Yan.
Selama ini, lulusan SMK Muhammadiyah Garut terbukti terserap dengan baik di berbagai sektor, mulai dari swalayan besar, dealer sepeda motor, hingga perusahaan mitra industri lainnya.
Selain bekerja, sejumlah siswa juga memilih berwirausaha, seperti membuka bengkel mandiri. Sekitar 50 persen lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi negeri maupun swasta, antara lain IMDA, IPI Garut, dan kampus lainnya.
Menurut Yan Yan, uji kompetensi bukan hanya formalitas sekolah, tetapi menjadi tolok ukur kualitas pembelajaran. Ia menegaskan harapan agar seluruh siswa dapat mencapai standar minimal kelulusan.
“Harapannya tentu kualitas siswa meningkat, pembelajaran lebih terukur, dan hasil akhirnya memudahkan merekabaik untuk bekerja, kuliah, maupun berwirausaha,” ujarnya.***
Penulis : Soni Tarsoni

















