MUI Garut Tegaskan Sertifikat Mualaf Jadi Syarat Sah Administrasi Kependudukan

Rabu, 14 Januari 2026 - 19:43 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sekum MUI Kabupaten Garut, H. Mohamad Yusuf Sapari menyerahkan sertifikat kepada salah seorang mualaf asal Tiongkok yang telah menikah dengan warga Desa Wanakerta Wanaraja Kabupaten Garut di kantor MUI Garut Rabu, (14/1/2026)

Sekum MUI Kabupaten Garut, H. Mohamad Yusuf Sapari menyerahkan sertifikat kepada salah seorang mualaf asal Tiongkok yang telah menikah dengan warga Desa Wanakerta Wanaraja Kabupaten Garut di kantor MUI Garut Rabu, (14/1/2026)

WARTAGARUT.COM – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut menegaskan bahwa setiap warga yang masuk Islam atau menjadi mualaf wajib memiliki sertifikat resmi salah satunya dari MUI Kabupaten Garut agar perubahan status agama dapat diakui secara sah dalam administrasi kependudukan, termasuk Kartu Keluarga (KK) dan KTP.

Sekretaris Umum MUI Kabupaten Garut, H. Mohamad Yusuf Sapari, S.Pd., M.M.Pd., menjelaskan bahwa meskipun prosesi ikrar masuk Islam dapat dilakukan melalui berbagai jalur, pengakuan negara tetap mensyaratkan sertifikat yang dikeluarkan oleh MUI tingkat kabupaten atau intansi yang lainnya yang memiliki kewenangan.

“Orang yang masuk Islam bisa melalui DKM masjid, MUI desa, MUI kecamatan, para kiai, atau ulama. Tapi untuk keperluan administrasi negara, sertifikatnya harus dari MUI Kabupaten Garut atau Intansi yang berwenang, karena itu yang diakui Disdukcapil,” tegas H. Yusuf Sapari.

H. Yusuf mengungkapkan, sertifikat mualaf menjadi dokumen kunci saat seseorang mengajukan perubahan data agama di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil).

“Kalau hanya membawa surat dari KUA, kecamatan, atau DKM, itu sering kali ditolak. Sudah banyak kejadian seperti itu. Akhirnya mereka datang ke MUI Kabupaten untuk meminta sertifikat,” ujarnya.

Baca Juga :  Hari Santri 2026, Ketua PDM Garut Dorong Santri Jadi Penggerak Perubahan

Ia menjelaskan, perubahan agama dari non Islam ke Islam harus tercatat secara resmi agar memiliki kekuatan hukum dan administratif.

Selain aspek administrasi, MUI Garut juga menaruh perhatian serius pada pembinaan keislaman para mualaf. Menurut Yusuf, MUI tidak ingin seseorang masuk Islam hanya sebatas ikrar tanpa pemahaman dan praktik ibadah.

“Kami tidak mau yang masuk Islam itu hanya masuk Islam saja. Makanya kami titipkan pembinaannya kepada yang mengislamkan, baik kiai, ulama, DKM, atau MUI setempat,” katanya.

Pembinaan tersebut meliputi dasar-dasar ibadah, seperti tata cara wudu, salat, bacaan salat, doa-doa harian, hingga mandi wajib.

“Kalau tidak dibimbing, itu berbahaya. Bisa jadi mereka seenaknya saja dan tidak menjalankan syariat Islam,” tambah Yusuf.

MUI Kabupaten Garut mencatat permintaan sertifikat mualaf mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Tahun 2024: 6 orang, Tahun 2025: 8 orang, Awal Januari 2026: 1 orang

Baca Juga :  Hari Santri Nasional, Rektor UNIGA Irfan Nabhani Soroti Peran Santri dalam Membangun Bangsa

Menariknya, pemohon sertifikat mualaf tidak hanya berasal dari Garut, tetapi juga dari luar daerah bahkan luar negeri.

“Ada yang dari Purwakarta, Cianjur, Manado, warga negara Cina, sampai Belgia,” ungkap Yusuf.

Pada awal 2026, MUI Garut mencatat satu mualaf asal Cina yang masuk Islam karena menikah dengan warga Desa Wanakerta, Kecamatan Wanaraja, setelah sebelumnya mengucapkan ikrar masuk Islam di wilayah tersebut.

H. Yusuf menjelaskan, Untuk mengajukan sertifikat mualaf di MUI Kabupaten Garut, pemohon diwajibkan melengkapi beberapa dokumen, antara lain: Surat pengantar dari kelurahan, Fotokopi KTP atau KK (3 lembar), Pas foto ukuran 3×4 (3 lembar), Surat pernyataan memeluk Islam bermaterai, tanpa paksaan

Sementara untuk perubahan data agama di KTP dan KK, pemohon juga perlu menyiapkan: Surat keterangan RT dan RW, KTP dan KK asli, Surat keterangan mualaf, Sertifikat mualaf

“Semua ini untuk memastikan prosesnya sah secara agama dan diakui negara,” pungkas H. Yusuf Sapari.***

Penulis : Soni Tarsoni

Follow WhatsApp Channel wartagarut.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rp2,659 Miliar Santunan JKM Disalurkan kepada 82 Ahli Waris di Garut
Prakiraan Cuaca Garut Hari Ini 26 Oktober 2026, Cek Potensi Hujan
Ketua PDM Garut Tekankan Dialog dan Amal Saleh dalam Pelantikan Kepala SMP Muhammadiyah
Hari Santri 2026, Ketua PDM Garut Dorong Santri Jadi Penggerak Perubahan
Pengajian Aisyiyah Garut, Dr Agus Rahmat Nugraha Bahas Pendusta Ayat Allah
Baznas Garut Masih Menunggu Seleksi Pimpinan, Masa Jabatan Ketua Berakhir November
Kang Abik, Penulis Ayat-Ayat Cinta, Hadir di Al Mashduqi Garut, Pesan Haru Orang Tua Warnai Pelepasan Santri Murid ke Al-Azhar
Cek Bansos BPNT 2026: Link Resmi dan Cara Cek Pakai NIK

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:22 WIB

Rp2,659 Miliar Santunan JKM Disalurkan kepada 82 Ahli Waris di Garut

Senin, 26 Oktober 2026 - 06:44 WIB

Prakiraan Cuaca Garut Hari Ini 26 Oktober 2026, Cek Potensi Hujan

Jumat, 23 Oktober 2026 - 12:14 WIB

Ketua PDM Garut Tekankan Dialog dan Amal Saleh dalam Pelantikan Kepala SMP Muhammadiyah

Kamis, 22 Oktober 2026 - 12:23 WIB

Hari Santri 2026, Ketua PDM Garut Dorong Santri Jadi Penggerak Perubahan

Rabu, 21 Oktober 2026 - 11:53 WIB

Pengajian Aisyiyah Garut, Dr Agus Rahmat Nugraha Bahas Pendusta Ayat Allah

Berita Terbaru