Terima Kasih Guru
Oleh: Dr. Ijudin, M.Si. (Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Garut)
Tanggal 25 November merupakan hari bersejarah bagi guru, karena bertepatan dengan Hari Guru Nasional. Pada tahun 2025 ini, peringatan Hari Guru Nasional mengusung tema ”Guru Hebat, Guru Kuat”.
Tema ini diusung sebagai momentum untuk mengenang, menghargai dan meneguhkan kembali peran dan pengabdian para guru dalam membangun generasi masa depan bangsa.
Hari Guru Nasional diperingati bertepatan dengan ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang berdiri sejak tahun 1945, sebagai wadah perjuangan para pendidik dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Posisi dan peran guru sangat strategis dan penting dalam mencetak anak bangsa. Begitu besar posisi dan peran seorang guru, ahli sejarah terkemuka Henry Adams pernah berkata bahwa: “Seorang guru itu berdampak abadi, ia tidak pernah tahu, di mana pengaruhnya itu berhenti” (a teacher effects eternity, he can never tell where his influence stops).
Dalam sebuah kitab Ta’limul Muta’allim, Syaikh Az Zarnuji mengatakan: “Ketahuilah sesungguhnya seorang pencari ilmu tidak akan memperoleh ilmu dan kemanfaatan ilmu, kecuali dengan menghormati ilmu, ahli ilmu dan menghormati guru”.
Lebih jauh Syaikh Az Zarnuji menegaskan dalam sebuah sya’irnya: “Sesungguhnya baik guru dan dokter, tidak memberi nasihat apabila keduanya tidak dihormati. Bersabarlah dengan penyakitmu, jika anda jauh dari dokter, dan puaslah dengan kebodohanmu jika anda jauh dari guru”.
Dari ungkapan di atas, posisi guru diumpamakan seperti seorang dokter. Seorang pasien yang sedang sakit, ia membutuhkan obat maka dokterlah yang dicari. Ia rela mendaftar antrian di awal, rela menunggu berjam-jam menanti panggilan.
Setelah bertemu dokter, didengarkan segala nasihat dan perkataannya, dibutuhkan resepnya, ditebus obatnya, ditaati semua saran dan dijauhi segala pantangannya.
Demikian seharusnya penghormatan kepada guru. Bahkan, selayaknya penghormatan kepada guru, melebihi penghormatan kepada dokter.
Karena dokter mengobati fisik kita, guru mengobati batin kita. Dokter memberikan solusi permasalahan jasmani, guru membimbing dan mengarahkan ketenangan ruhani.
Dokter memberikan resep kesehatan, guru memberikan resep kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Kita harus mengambil hikmah dari kisah Nabi Musa, ia sangat menghormati dan menjunjung tinggi adab belajar kepada gurunya Nabi Khidir.
Terapkanlah adab-adab yang terpuji di hadapan guru, ucapkan salam ketika bertemu, berikan senyum ikhlas jika berjumpa, jaga etika saat duduk bersamanya, berbicara santun dengannya, meminta izin ketika bertanya, dan dengarkan dengan baik nasihat dan bimbingannya.
Guru adalah pengganti orang tua di tempat belajar, karena guru tidak hanya mengajarkan angka dan huruf, tetapi ia mengajarkan makna hidup, makna berjuang dan menjadi diri sendiri.
Guru adalah pembawa ilmu, hikmah dan kebenaran. Guru adalah salah satu pintu meraih keberkahan ilmu.
Terima kasih kepada para guru atas kesabaran yang tidak pernah habis, atas ilmu yang tidak pernah lelah dibagikan, atas semua yang tidak pernah minta balasannya, dan atas cinta yang tulus dalam mendidik generasi terbaik negeri ini.
Semoga setiap lelahmu menjadi cahaya, setiap doamu menjadi jalan terang, dan setiap langkahmu membawa berkah.

















