WARTAGARUT.COM – Nama Dr. H. Iyus Suryana, S.H., M.H. kian bersinar di dunia peradilan Indonesia.
Sosok putra daerah asal Garut ini kini dipercaya memegang jabatan strategis sebagai Sekretaris Kepaniteraan Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia.
Posisi prestisius tersebut menjadi bukti kerja keras, integritas, dan dedikasi panjangnya selama lebih dari dua dekade mengabdi di dunia hukum.
Lahir di Garut pada 31 Januari 1968, H. Iyus Suryana memulai kariernya pada tahun 1994 sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Pengadilan Negeri (PN) Garut.
Dengan ketekunan dan komitmen tinggi, suami dari Nanien Diani ini terus menapaki jenjang karier yang membawa dirinya ke berbagai daerah penugasan.
Sejak pertama kali dipercaya menjadi Wakil Panitera PN Garut pada 1999 hingga 2015, H. Iyus Suryana menunjukkan kepemimpinan yang solid.
Setelah itu, kariernya kian melesat dengan menempati berbagai posisi penting:
Panitera PN Cianjur (2015)
Panitera PN Tanjungpinang (Januari 2017)
Panitera PN Tanjungkarang (Mei 2017)
Panitera PN Sidoarjo (2019)
Panitera PN Jakarta Timur (2021)
Puncaknya, pada 2024, ia resmi dilantik sebagai Sekretaris Kepaniteraan Mahkamah Agung, posisi strategis yang mengawal sistem administrasi peradilan di seluruh Indonesia.
Tidak hanya mengukir prestasi di dunia kerja, Iyus juga terus mengasah kompetensinya di bidang akademik.
Ia meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Pasundan Bandung pada 1993, lalu melanjutkan studi dan meraih Magister Ilmu Hukum pada 2007, hingga menyelesaikan program Doktor Ilmu Hukumdi universitas yang sama pada 2019.
Ayah dari tiga anak — Aulia Salsabila, Zahira Kamilia, dan M. Fachri Faisal — ini dikenal rendah hati dan dekat dengan masyarakat Garut.
Tak jarang, di sela kesibukan di ibu kota, ia menyempatkan diri untuk pulang kampung dan berinteraksi dengan warga, terutama dalam kegiatan sosial dan keagamaan.
Keberhasilan H. Iyus Suryana menjadi inspirasi nyata bagi generasi muda Garut.
Ia membuktikan bahwa kerja keras, pendidikan, dan integritas adalah kunci untuk mencapai kesuksesan, tanpa melupakan akar dan identitas sebagai anak daerah.***
Penulis : Soni Tarsoni













