WARTAGARUT.COM – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut menggelar Musyawarah Daerah (Musda) XI di Hotel Santika Garut pada Selasa, 18 November 2025.
Mengangkat tema “Mempererat Ukhuwah Islamiyah, Memperkokoh Islam Wasathiyah”, forum ini menjadi momentum strategis untuk mengevaluasi kinerja selama lima tahun terakhir sekaligus menentukan arah kepemimpinan periode 2025–2030.
Plt. Ketua Umum MUI Garut, KH. Aceng Abdul Mujib, menyampaikan berbagai capaian program masa khidmat 2020–2025 yang telah difokuskan pada pembinaan umat, penguatan wawasan kebangsaan, serta peneguhan ajaran Islam wasathiyah.
KH. Aceng menjelaskan bahwa selama lima tahun terakhir, MUI Garut memprioritaskan pembinaan langsung kepada masyarakat untuk mengatasi berbagai penyimpangan dalam aspek keagamaan maupun kenegaraan.
“Banyak sekali penyimpangan yang terjadi, baik terkait keagamaan maupun kenegaraan. Alhamdulillah, selama lima tahun kita fokus menjadikan Islam wasathiyah atau rahmatan lil ‘alamin, sehingga tercipta kehidupan yang kondusif, aman, nyaman, toleran, dan saling menghargai. Kita tidak lagi bicara radikal, tidak lagi mendukung terorisme,” tegasnya.
Menurutnya, lingkungan yang aman dan harmonis menjadi fondasi yang memperkuat perkembangan sektor lain, seperti ekonomi, kesehatan, hingga pendidikan.
Ia juga menekankan pentingnya harmoni antarormas Islam, yang meskipun beragam, tetap dapat melahirkan kepemimpinan yang solid dan bekerja sesuai program organisasi tanpa gesekan yang berarti.
Ketua Musda XI MUI Kabupaten Garut, Dr. H. Jajang Burhanudin, menambahkan bahwa masa khidmat 2020–2025 memiliki sejarah penting karena dijalankan oleh dua ketua umum.
Ketua umum pertama, almarhum KH. Sirajul Munir, wafat di tengah masa pengabdian.
“Kami memohon doa agar almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT,” ujar Dr. Jajang.
Setelah kepergian almarhum, kepemimpinan dilanjutkan oleh Plt. Ketua Umum KH. Aceng Abdul Mujib, yang selama tiga bulan terakhir disebut mampu menjalankan aktivitas organisasi dengan luar biasa.
Dr. Jajang menegaskan bahwa Musda bukan sekadar tradisi organisasi, tetapi mekanisme demokratis yang fundamental dalam menentukan kepemimpinan yang representatif, inklusif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat Garut.
“Musda adalah alat strategis untuk membentuk kepemimpinan yang demokratis dan berkelanjutan. Proses ini diharapkan mampu memperkuat fondasi MUI Kabupaten Garut melalui partisipasi, konsensus, dan tata kelola yang sehat,” jelasnya.
Musda XI MUI Garut diikuti oleh Pengurus DPH MUI masa khidmat 2020–2025, Ketua dan sekretaris MUI dari 42 kecamatan se-Kabupaten Garut,Utusan ormas Islam, dan Empat perwakilan pesantren yang menjadi representasi ormas Islam.
Forum ini ditargetkan menghasilkan berbagai keputusan strategis, seperti pengesahan tata tertib sidang, tata tertib pemilihan, penetapan program kerja, serta pemilihan ketua umum baru periode 2025–2030.
Sebanyak lima pleno dijadwalkan berlangsung dalam Musda XI ini.
Penulis : Soni Tarsoni

















