WARTAGARUT.COM – Karakter Bubun dalam serial Preman Pensiun menjadi salah satu figur paling kontroversial yang merepresentasikan ambisi, tekanan, dan pencarian jati diri di tengah kerasnya dunia terminal.
Diperankan oleh Melga Septrida, Bubun awalnya muncul sebagai anak buah di bawah struktur kekuasaan lama yang dipimpin oleh Kang Gobang.
Dalam fase ini, ia dikenal sebagai sosok dengan kemampuan bertarung yang mumpuni serta keberanian tinggi dalam menghadapi lawan.
Momentum besar terjadi ketika Bubun berhasil mengambil alih kekuasaan terminal setelah para senior memilih mundur.
Ia naik menjadi pemimpin di era transisi, sebuah posisi yang terlihat menjanjikan namun sarat tekanan.
Sebagai pemimpin baru, Bubun tidak hanya menghadapi konflik internal, tetapi juga tekanan eksternal dari kelompok lain, termasuk ancaman dari Kang Darman serta tekanan dari Bos Edi.
Situasi tersebut membuatnya berada dalam posisi yang terus terdesak.
Kondisi ini menggambarkan realitas bahwa kekuasaan tidak selalu identik dengan ketenangan.
Bubun memiliki kendali atas wilayah, tetapi tidak memiliki stabilitas emosional maupun dukungan yang cukup untuk mempertahankannya.
Ekspresi wajah dan sikapnya yang sering gelisah mencerminkan beban berat yang harus ia tanggung.
Tanpa mentor seperti Kang Mus, Bubun menjalani kepemimpinan dalam kesendirian.
Memasuki fase berikutnya, karakter Bubun menunjukkan perubahan signifikan.
Tekanan yang terus-menerus, kehilangan dukungan, serta ancaman yang semakin intens membawanya pada titik terendah dalam perjalanan hidupnya.
Dalam kondisi tersebut, Bubun mulai menyadari pentingnya kebersamaan.
Ia tidak lagi memandang kekuasaan sebagai tujuan utama, melainkan mencari rasa aman dan tempat untuk kembali.
Keputusan Bubun untuk merapat ke kubu Kang Cecep menjadi titik balik penting.
Langkah ini bukan sekadar strategi bertahan hidup, tetapi juga bentuk pengakuan atas kesalahan dan kebutuhan akan solidaritas.
Perjalanan ini menunjukkan bahwa Bubun bukan hanya karakter antagonis, melainkan representasi sisi pahit dari ambisi yang tidak diimbangi kesiapan mental dan dukungan sosial.
Transformasi Bubun memperlihatkan bahwa dalam dunia yang keras sekalipun, kesadaran untuk kembali dan memperbaiki diri tetap menjadi kemungkinan yang terbuka.
Karakter ini menegaskan bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal merebut kekuasaan, tetapi juga kemampuan menjaga, mengelola, dan bertahan dalam tekanan yang datang dari berbagai arah.***
Penulis : Soni Tarsoni

















