WARTAGARUT.COM – Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Garut memperkuat pembinaan terhadap 99 sekolah dan madrasah di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah.
Penguatan diarahkan pada peningkatan mutu manajerial kepala sekolah sekaligus pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).
Pembinaan tersebut digelar Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) dan PNF PDM Garut di Gedung Dakwah Muhammadiyah Garut, Kamis (20/8/2026).
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Garut, Drs. H. Ade Sahrudin, M.Pd., mengatakan seluruh sekolah dan madrasah di lingkungan Muhammadiyah Garut diundang dalam kegiatan tersebut.
Menurut Ade, materi pembinaan tidak hanya berfokus pada pengelolaan lembaga pendidikan, tetapi juga penguatan spirit dan pembinaan peserta didik menghadapi berbagai persoalan yang berkembang di lingkungan pelajar.
“Pembinaan ini ada beberapa topik yang disampaikan, antaranya pembinaan tentang spirit yang disampaikan oleh Pak Ketua PDM, memotivasi para kepala sekolah. Yang kedua berkaitan dengan manajerial, bagaimana pengelolaan lembaga pendidikan agar lebih maju, lebih berkembang,” kata H. Ade Sahrudin.
Isi Artikel
Kepala Sekolah Didorong Bangun Ekosistem Sekolah Unggul
Wakil Ketua PDM Kabupaten Garut Koordinator Bidang Pendidikan, Drs. H. Nanang Sopyan Hambali, M.Pd., mengatakan salah satu fokus pembinaan manajerial adalah bagaimana kepala sekolah mampu membangun ekosistem sekolah unggul.
Menurut H. Nanang, strategi peningkatan mutu sekolah dapat dilakukan melalui Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME).
Ia menjelaskan penjaminan mutu tersebut berkaitan dengan berbagai aspek yang kemudian tercermin dalam proses akreditasi sekolah.
“Akreditasi sekolah hari ini adalah salah satunya ada empat komponen yaitu mutu lulusan. Yang kedua adalah untuk pembelajaran. Tiga adalah mutu pendidik dan tenaga kependidikan, dan yang keempat adalah manajemen sekolah,” ujar H. Nanang Sopyan Hambali.
Karena itu, kepala sekolah dinilai perlu memiliki kemampuan manajerial yang terus diperbarui sesuai perkembangan zaman.
Nanang menekankan, pola pengelolaan sekolah tidak bisa berhenti pada cara-cara lama. Kepala sekolah perlu menyesuaikan strategi kepemimpinan dan pemberdayaan dengan kondisi pendidikan saat ini.
“Manajerial sekolah harus update dengan situasi kondisi hari ini. Jadi jurus yang dilakukan dulu, dengan sekarang jelas harus berbeda, karena zaman juga berbeda,” katanya.
Evaluasi Kinerja Kepala Sekolah Disiapkan
Selain pembinaan, PDM Garut juga menekankan pentingnya evaluasi kinerja kepala sekolah sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pengelolaan sekolah.
Nanang mengatakan evaluasi kinerja kepala sekolah dilakukan setiap satu tahun sebagai bentuk evaluasi dari persyarikatan selaku pemilik dan pengelola Amal Usaha Muhammadiyah.
Evaluasi tersebut diarahkan untuk melihat kemampuan manajerial kepala sekolah sekaligus mengetahui bagian yang masih perlu diperbaiki.
Menurut dia, keberhasilan pembinaan tidak harus selalu ditandai perubahan besar. Hal yang lebih penting adalah adanya progres setelah intervensi atau pembinaan dilakukan.
“Indikator keberhasilan pembinaan ya ada progres, ada perubahan, walaupun keberhasilan itu sekecil mungkin. Tapi yang penting, yang pasti adalah bahwa setiap treatment yang dilakukan oleh pihak persyarikatan Muhammadiyah harus berdampak dan dirasakan serta mampu memunculkan indikator,” tuturnya.
AIK Didorong Tak Berhenti di Nilai Rapor
Sementara itu, H. Ade Sahrudin menekankan pentingnya integrasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam kehidupan sekolah.
Menurutnya, AIK tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai mata pelajaran yang menghasilkan nilai di rapor. Materi tersebut juga diharapkan menjadi bagian dari pembinaan karakter siswa dan guru.
“Al-Islam dan Kemuhammadiyahan ini merupakan salah satu media alat untuk selanjutnya melakukan pembinaan ke siswa-siswa dan guru-guru mapel. AIK tidak hanya menjadikan mata pelajaran Islam dan Kemuhammadiyahan ini sebagai satu nilai rapor saja,” katanya.
Dalam pembinaan tersebut, Dikdasmen PNF PDM Garut juga menyoroti kekhawatiran terhadap sejumlah persoalan sosial yang dinilai dapat memengaruhi pelajar.
Ade menyebut narkoba, perilaku seksual berisiko, serta isu LGBT sebagai bagian dari persoalan yang ingin diantisipasi melalui pendekatan preventif di lingkungan sekolah dan madrasah Muhammadiyah.
Ia menekankan, upaya tersebut dilakukan melalui pencegahan dan kolaborasi antara kepala sekolah, guru, serta unsur pendidikan lainnya.
“Makanya kami mengundang para kepala sekolah agar Bapak Ibu Kepala Sekolah menyampaikan hal ini kepada Bapak Ibu Guru yang lainnya atau kepada perangkat yang lain, untuk bekerjasama kolaborasi dalam rangka pencegahan diri, jangan sampai terjadi,” ujarnya.
Pembinaan Akan Dilanjutkan
H.Ade memastikan pembinaan tidak berhenti pada kegiatan yang berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Garut tersebut.
Menurutnya, tindak lanjut akan dilakukan melalui kerja sama dan pembinaan langsung ke sekolah-sekolah. Program pendampingan juga disiapkan sebagai tindak lanjut kegiatan.
“Insya Allah program pendampingan kita lakukan sebagai follow up dari kegiatan hari ini,” kata H. Ade.
H. Nanang menambahkan, pendampingan ke depan akan diarahkan menggunakan analisis data sehingga pembinaan dapat lebih terukur.
Dengan pola tersebut, PDM Garut berharap pembinaan terhadap sekolah dan madrasah Muhammadiyah tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menghasilkan perubahan yang dapat diidentifikasi melalui indikator dan perkembangan kinerja masing-masing lembaga.
Pembinaan AIK dan manajerial tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya PDM Garut memperkuat kualitas Amal Usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan melalui peningkatan kapasitas kepala sekolah, penjaminan mutu, pembentukan karakter, serta pendampingan berkelanjutan.
Penulis : Soni Warta Garut
Editor : Soni Tarsoni

















Komentar